Article

Jumat , 11 Sep 2020 15:55:13
Sering Merasa Telinga Seperti Tersumbat? Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Sudah sejak Juni lalu, ilmuwan mengetahui adanya mutasi dari Coronavirus penyebab COVID-19. Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang bermutasi menjadi jenis baru ini diketahui lebih mudah menular dan menginfeksi manusia daripada jenis aslinya yang berasal dari Wuhan, China.

Hal ini juga diumumkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah, dalam sebuah postingan di media sosial.

“(Mutasi coronavirus) ditemukan 10 kali lebih mungkin untuk menginfeksi orang lain dan lebih mudah disebarkan oleh individu,” tulis Abdullah, Minggu (16/8).

Kenapa mutasi Coronavirus penyebab COVID-19 lebih mudah menular?

Mutasi baru dari SARS-CoV-2 ini disebut dengan strain D614 atau mutasi G. Untuk mengingatkan kembali, virus Corona penyebab COVID-19 yang saat ini sedang mewabah bernama SARS-CoV-2. Virus ini diketahui pertama kali menyerang manusia di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu.

Sejak saat itu SARS-CoV-2 telah bermutasi beberapa kali. Mutasi pertama yakni strain ‘S’, muncul pada pertengahan Januari 2020, lalu virus terus bermutasi sedikit demi sedikit. 

Perkembangan terbaru, peneliti dari Universitas Bologna, Italia, menemukan adanya 6 jenis mutasi strain Coronavirus yang saat ini sedang mewabah.

 

Apa sih mutasi virus? Mutasi adalah perubahan materi atau bahan genetika yang menyusun virus. Mutasi terjadi saat virus mereplikasi/memperbanyak diri.

Saat makhluk hidup mereplikasi diri, ia tidak selalu membuat salinan sempurna yang sama persis seperti materi dan komposisi genetik yang membentuknya. Dengan kata lain, virus membuat kesalahan saat  proses replikasi diri, inilah yang disebut mutasi.

Perbedaan mutasi D614G dari jenis aslinya terdapat pada susunan spike protein virus atau bagian luar virus yang membentuk seperti ‘duri-duri’. Bagian ‘duri’ ini yang digunakan virus untuk memasuki tubuh manusia.

Sebuah studi terpisah dari The Scripps Research Institute, Amerika serikat, menjelaskan mutasi Coronavirus jenis D614G itu 10 kali lebih menular daripada aslinya karena spike proteinnya lebih jarang pecah. Studi ini dipublikasikan di situs penelitian online bioRxiv namun belum melalui tinjauan ilmiah dari rekan sejawat hingga saat ini.

Mutasi adalah sesuatu yang wajar terjadi, ia bisa membuat si virus lebih berbahaya atau lebih lemah. Namun, sejauh ini hanya mutasi D614G yang berhasil diidentifikasi berpotensi mengubah perilaku SARS-CoV-2 menjadi tipe yang memiliki kemampuan infeksi lebih tinggi.

Apa pentingnya melakukan analisis terhadap mutasi virus menular?

Dalam studi bulan Juli yang diterbitkan dalam jurnal Cell, Dr Bette Korber, ahli biologi Amerika Serikat menemukan bahwa jenis D614G awalnya lebih banyak terjadi di Eropa. Kasus-kasus infeksi COVID-19 dari SARS-CoV-2 hasil mutasi ini mulai meningkat di luar Eropa pada awal maret. 

Mutasi D614G sekarang menjadi jenis dominan dalam pandemi COVD-19, yakni sekitar 70 persen dari  50.000 genom virus korona membawa mutasi tersebut.

Meski disebut 10 kali lebih mudah menular, Dr Korber mengatakan bahwa jenis mutasi ini tidak lebih mematikan pada pasien COVID-19. Ia menjelaskan bahwa tingkatan gejala pada pasien COVID-19 tergantung pada penyakit penyerta, usia, dan jenis kelamin.

Professor Gavin Smith dari departemen program penyakit menular National University of Singapore mengatakan bahwa mutasi ini tidak benar-benar lebih mudah menular. Ia mengatakan, mutasi D614G hanya terlihat lebih mudah menular karena memasuki wilayah dengan penularan COVID-19 yang tidak terkontrol dengan baik.

Bagi masyarakat, mutasi ini tidak mengubah cara pencegahan yang harus dilakukan tapi justru harus dilakukan dengan lebih baik dan disiplin. Paling utama adalah menjaga jarak dan hindari keramaian, jika terpaksa harus keluar rumah maka kenakan masker dan perhatikan jarak dengan orang lain, serta selalu ingat menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan.