Article

Senin , 23 Mar 2020 11:27:28
Obat Batuk untuk Bayi, dari Resep Dokter Hingga Pengobatan Alami

Saat si kecil batuk orang tua tak bisa memberikan sembarang obat. Pasalnya, tak semua obat batuk aman dikonsumsi oleh anak-anak, terutama bayi. Alih-alih sembuh, kondisi si kecil malah semakin bertambah parah. Belum lagi, terdapat efek samping yang mengancam keselamatan jiwa si kecil jika memberi obat batuk untuk bayi. 

Pada tahun 2008, lembaga pengawasan obat dan makanan di Amerika, Food and Drug Administration (FDA), bahkan telah melarang penggunaan obat batuk over-the-counter (OTC) untuk anak-anak di bawah umur 2 tahun, kecuali berada di bawah pengawasan dokter. Jika demikian, upaya penanganan seperti apa yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam mengatasi batuk pada bayi?

Bolehkah memberi obat batuk untuk bayi?

FDA tidak merekomendasikan penggunaan obat batuk untuk bayi dikarenakan risiko efek samping yang berbahaya. Pemberian obat batuk OTC  pada anak-anak berumur 2 sampai 11 tahun juga harus dalam dosis yang terkontrol. Obat batuk OTC  terlalu sering dapat berbahaya begitu pula OTC yang terdiri atas berbagai kandungan aktif. Apabila memberikan OTC yang sama terlalu sering, maka anak sangat berisiko mengalami overdosis.

Dalam dunia medis, pemberian obat pilek dan batuk dengan dosis yang tidak terukur dapat menjadi penyebab kematian bayi secara tiba-tiba. Penelitian yang dipublikasikan American Academy of Pediatrics memperkirakan terdapat 7091 anak di bawah umur 12 tahun yang mengalami efek samping berbahaya dari penggunaan obat, di antaranya adalah obat OTC yang digunakan untuk mengatasi pilek dan batuk. Terakhir, AAP bersama FDA menaikan batas usia pelarangan obat OTC pada anak-anak di bawah umur 4 tahun.

Selain itu, efektivitas OTC sebagai obat batuk untuk bayi juga masih diragukan. Kebanyakan dokter anak pun keberatan untuk memberikan over-the-counter sebagai obat batuk untuk bayi dan anak-anak. Pada studi yang dirilis oleh BMJ  tak memperoleh cukup bukti apakah OTC benar-benar efektif dalam menyembuhkan batuk pada anak-anak. Bukannya menyembuhkan batuk, saat diberikan pada anak-anak obat ini malah cenderung meredakan gejala-gejala penyakit flu, seperti bersin-bersin, mata berair, hidung tersumbat, tenggorokan kering, dan demam namun tidak menyembuhkan batuk.

Obat OTC yang dilarang digunakan sebagai obat batuk untuk bayi

Efek samping yang bisa ditimbulkan dari konsumsi obat batuk OTC pada bayi meliputi kejang-kejang, kehilangan kesadaran, peningkatan detak jantung hingga kematian. Obat-obatan yang dapat menimbulkan efek samping tersebut adalah yang memiliki kandungan aktif, seperti:

Dekongestan

Obat batuk yang satu ini dipasaran dikenal dengan label nasal dekongestan. Jenis dekongestan yang umum digunakan adalah pseudoephedrine dan phenylephrine. Keduanya berfungsi mengencerkan mukus atau lendir yang menyebabkan penyumbatan pada saluran napas bagian atas, dengan cara meredakan peradangan yang terjadi pada membran penghasil mukus. 

Jenis pseudoephedrine tak sebaiknya digunakan sebagai obat batuk untuk bayi karena dapat meningkatkan tekanan darah aritmia atau detak jantung yang tidak teratur hingga kematian. 

Ekspektoran

Ekspektoranyang biasa digunakan sebagai obat batuk mengandung zat yang bersifat mukolitik, yaitu guaifenesin. Kandungan ini berfungsi mengurangi tingkat kepadatan atau viskositas lendir sehingga memberikan efek lega pada saluran pernapasan. Jika dikonsumsi sebagai obat batuk untuk bayi, obat ini dapat menimbulkan efek samping yang parah seperti tubuh menggigil, muntah-muntah, dan kerusakan ginjal (nephroliyhiasis).

Antihistamin

Diphenhydramine, chlorpheniramine, and brompheniramine merupakan jenis antihistamin yang umumnya digunakan untuk meredakan gejala alergi dan flu, seperti bersin-bersin dan hidung berair.

Obat ini juga dikenal sebagai reseptor antagonis H1 yang mampu mencegah reaksi histamin yang muncul ketika alergi berlangsung pada saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan pembuluh darah. Saat digunakan sebagai obat batuk untuk bayi, antihistamin dapat memicu terjadinya halusinasi, demam, pelemahan saraf sentral (central nervous system depression), kerusakan pada jantung, gangguan perkembangan dan kematian.

Antitusif atau pereda batuk

Jenis obat pereda batuk yang umum digunakan adalah dextromethorpan. Biasanya pada kemasan  ditemukan label “DM”. Obat ini bekerja secara langsung pada pusat refleks batuk sehingga mampu menekan frekuensi batuk sekaligus melegakan otot tenggorokan yang menegang akibat batuk. Penggunaanya sebagai obat batuk untuk bayi berisiko menimbulkan masalah pada sistem saraf seperti gangguan pergerakan, ketergantungan, kelainan serotonin, mual-mual, kesulitan bernapas. 

Beberapa jenis obat batuk yang dijual di apotek atau supermarket tidak hanya terdiri atas satu kandungan dari zat aktif saja. Obat batuk tersebut merupakan obat kombinasi yang biasanya digunakan juga untuk menyembuhkan penyakit flu. 

Kapan harus ke dokter?

Gejala batuk yang disebabkan oleh infeksi virus flu biasanya akan mereda dengan sendirinya dalam waktu kurang dari seminggu.

Apabila batuk pada bayi tidak kunjung berhenti selama 10 hari atau lebih, Anda perlu segera menemui dokter. Pada umumnya, anak-anak berusia di bawah 4 bulan tidak mengalami batuk terlalu sering. Maka dari itu, batuk berkepanjangan bisa menandakan terdapatnya gangguan serius pada sistem pernapasan si kecil, seperti penyakit asma dan bronkitis. 

Segera juga periksakan buah hati Anda ke dokter ketika beberapa kondisi ini terjadi:

  • Anak berusia di bawah tiga bulan mengalami batuk secara menerus
  • Batuk semakin memburuk di minggu ketiga
  • Anak bernapas lebih cepat dari biasanya
  • Disertai retraksi pada dada saat bernafas
  • Sering berkeringat di malam hari
  • Kesulitan bernapas
  • Tidak ingin makan atau menyusui
  • Memiliki dahak berwarna kuning, hijau, atau berdarah
  • Mengalami demam 38,3 derajat celcius untuk anak usia 3 hingga 6 bulan
  • Mengalami demam 39,4 derajat celcius untuk anak usia 6 bulan ke atas
  • Memiliki penyakit kronis seperti jantung atau paru-paru
  • Batuk sangat keras hingga muntah
  • Batuk terus menerus setelah tersedak sesuatu

Obat dokter yang membantu meringankan batuk pada bayi

Sebenarnya, tidak semua batuk pada bayi membutuhkan obat. Namun, jika anak mulai sulit tidur dan bahkan membuatnya tidak nyaman ada beberapa pilihan obat yang biasanya diberikan oleh dokter. Akan tetapi, obat yang diberikan pun sebenarnya bukan obat batuk untuk bayi yang berfungsi meredakan batuk, melainkan meredakan gejala-gejala lainnya yang menyertai batuk. 

Acetaminophen

Acetaminophen atau paracetamol termasuk obat pereda nyeri yang biasa diresepkan dokter saat si kecil batuk disertai demam. Meski bukan obat batuk untuk bayi, acetaminophen bisa meredakan gejala lain yang biasanya muncul bersamaan dengan batuk. Dengan mengatasi gejala lain yang menyertainya, batuk pun perlahan akan hilang dengan sendirinya.

Acetaminophen mulai bisa diberikan untuk anak usia dua bulan ke atas dalam bentuk sirup. Akan tetapi, Anda tidak diperbolehkan memberikan bayi acetaminophen yang dijual di pasaran. Obat ini wajib diberikan berdasarkan resep dari dokter. Pasalnya, acetaminophen bisa menjadi racun bagi hati jika terlalu banyak diminum.

Dokter akan menyesuaikan jumlah obat yang dibutuhkan dengan berat badan anak, bukan pada usianya. Untuk itu, jangan sembarangan memberikan acetaminophen yang dijual bebas di pasaran tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Acetaminophen bisa membahayakan jika berikan pada:

  • Anak di bawah usia dua bulan
  • Memiliki masalah hati atau ginjal
  • Minum obat untuk epilepsi
  • Minum obat untuk tuberkulosis

Parasetamol jarang sekali menimbulkan efek samping jika diberikan dalam dosis yang tepat. Namun, obat pereda nyeri ini bisa bereaksi negatif dengan obat-obatan lain. Oleh karena itu, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter sebelum memberikannya pada bayi Anda.

Ibuprofen

Selain acetaminophen,ibuprofen juga biasanya diresepkan dokter untuk membantu meredakan batuk pada bayi yang disertai demam. Obat ini biasanya diberikan untuk bayi yang berusia tiga bulan ke atas dengan berat lebih dari 5 kg dalam bentuk sirup.

Dibandingkan dengan acetaminophen, ibuprofen termasuk golongan obat yang lebih kuat. Pasalnya, selain meredakan nyeri  dan menurunkan demam, obat ini juga mampu mengatasi peradangan di dalam tubuh.

Ibuprofen memiliki tingkatan kekuatan yang berbeda sesuai dengan dosisnya. Untuk itu, dosis yang diberikan dokter disesuaikan dengan usia anak. Biasanya, efek ibuprofen bisa dirasakan 20 sampai 30 menit setelah diminum.

Namun, tidak semua bayi bisa minum obat ibuprofen saat batuk atau demam. Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter jika anak memiliki:

  • Alergi obat termasuk ibuprofen
  • Cacar air, karena dapat menimbulkan komplikasi kerusakan kulit dan jaringan lunak yang parah
  • Asma
  • Memiliki masalah hati atau ginjal
  • Memiliki penyakit radang usus seperti Crohn atau kolitis ulseratif

Untuk anak, ibuprofen biasanya diberikan 3 sampai 4 kali sehari dengan jeda 4 sampai 6 jam setiap dosisnya. Ibuprofen bisa menyebabkan efek samping ringan seperti sakit perut, gangguan pencernaan, dan mulas.

Penting untuk diketahui bahwa kedua jenis obat ini juga memiliki efek samping dalam penggunaannya. Selain itu, obat-obatan ini juga tidak secara langsung menyembuhkan batuk ataupun penyakit lain yang menyebabkan gejala batuk pada bayi. 

Obat tetes nasal saline

Tetes hidung atau nasal saline, yang berupa larutan air dan garam bisa menjadi cara efektif meredakan saluran napas yang tersumbat akibat infeksi virus flu. Obat batuk untuk bayi membantu membersihkan lendir berlebih di saluran hidung dan sinus yang kerap memicu batuk. Produk perawatan ini sering direkomendasikan dokter karena tidak mengandung obat apa pun yang bisa membahayakan bayi.

Anda hanya perlu meneteskan obat sebanyak 2 sampai 3 kali ke masing-masing lubang hidung. Lalu, tunggu selama 60 detik. Setelah itu, biasanya lendir akan keluar melalui proses bersin atau batuk. Berhati-hatilah saat meneteskan obat batuk untuk bayi ini, terutama pada bayi yang masih berumur di bawah 6 bulan karena khawatir akan tersedak. Anda bisa memakai alat bantu seperti aspirator jika kesulitan.

Pengobatan batuk secara alami pada bayi

Bagi orang tua, pastinya sulit ketika melihat bayi Anda jatuh sakit atau merasa tidak nyaman akibat batuk yang dialami. Akan tetapi, mempertimbangkan besarnya risiko efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat batuk OTC,  hendaknya Anda beralih pada pengobatan batuk secara alami. Cara berikut ini terbukti aman dan lebih efektif dalam meredakan batuk pada bayi.

Memberikan ASI

Bersamaan dengan penggunaan obat batuk untuk bayi  yang direkomendasikan oleh dokter, pastikan kebutuhan cairan dan nutrisi si kecil cukup dengan memberinya ASI. Kandungan nutrisi ASI mampu melawan infeksi bakteri atau virus yang merangsang terjadinya batuk. 

Minum banyak cairan

Batuk menyebabkan tubuh bayi membutuhkan lebih banyak cairan. Air putih adalah obat batuk untuk bayi yang dapat mencegah si kecil mengalami dehidrasi. Mengonsumsi banyak cairan juga dapat membantu mengencerkan lendir yang menggumpal di saluran napas si kecil. Dengan begitu, frekuensi batuk pun semakin berkurang. Jika anak nampak kesulitan bernapas akibat lendir yang terdapat di dalam hidung, cobalah untuk mengeluarkannya dengan hati-hati. 

Selain air putih, untuk bayi di atas umur 6 bulan Anda juga bisa memberikan sup hangat untuk si kecil. Keduanya sama-sama mampu menghidrasi tubuh dan mengencerkan lendir sehingga pernapasan bayi menjadi lebih lancar. 

Melembapkan udara

Udara yang kering dapat memperburuk kondisi batuk yang dialami si kecil. Sebaliknya, menghirup udara lembab dapat membantu melarutkan dahak yang menggumpal di sepanjang saluran pernapasan. Penggunaan humidifier di dalam ruangan mampu melembabkan udara di sekitar. Uap yang disemprotkan humidifier mampu menjernihkan kembali udara di dalam ruangan yang tercemar oleh debu, polusi, mikroorganisme, dan bakteri. Udara yang kering juga dapat menyebabkan iritasi pada saluran nafas. Pasanglah alat ini di dalam kamar.

Meninggikan kepala bayi

Untuk membantu bayi bernapas lebih lega, usahakan untuk meninggikan kepalanya saat tidur. Tambahkan bantal yang lembut dan empuk untuk membuat kepala bayi lebih tinggi dari tubuhnya. Jika bayi bisa bernapas dengan sempurna, refleks batuknya pun secara otomatis akan berkurang.

Banyak beristirahat

Untuk membantu memulihkan tubuh si kecil, kondisikan ia untuk cukup beristirahat. Usahakan untuk membuat tidurnya menjadi lebih nyaman misalnya sehingga ia lebih lelap tertidur. Istirahat dapat menjadi obat batuk untuk bayi yang baik, sebab membantu meningkatkan produksi sel darah putih yang dapat melawan virus. Selain itu, janganlah membawa si kecil bepergian ke luar rumah hingga kondisinya membaik.

Hati-hati menggunakan madu sebagai obat batuk untuk bayi

Madu merupakan bahan alami yang secara efektif terbukti dapat meredakan batuk. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa madu bahkan jauh lebih baik dibandingkan dengan obat batuk OTC. Madu mengandung zat antibakteri yang mampu memerangi infeksi bakteri dan virus penyebab batuk. Namun penting untuk diingat, sebaiknya madu tidak gunakan sebagai obat batuk untuk bayi berusia di bawah satu tahun. 

Pasalnya, dilansir dari laman Healthy Children, madu bisa menyebabkan penyakit botulisme, yaitu penyakit yang disebabkan oleh racun clostridium botulinum. Kondisi ini termasuk penyakit langka serius yang menyerang saraf tubuh dan membuat seseorang menjadi sulit bernapas hingga lumpuh otot.